top of page
  • Christian Aditya

Anatomy of a Crash

Sebuah Toyota Innova menabrak pembatas jalan di Kuningan. Sangat brutal hingga pembatas jalan tembus ke kabin.


Yang ramai di headline berita : airbag tidak mengembang.


Dan karena ini adalah Toyota, sudah pasti jadi sasaran netizen untuk di-bully. Oh tentu saja, the hateful "mainstream" brand. Apalagi ini produk yang populer. Netizen tidak suka sesuatu yang populer.


Non-car guys pun kembali mempertanyakan kualitas dan keamanan Toyota.


Well, kalau standar keamanan laboratorium seperti fitur keamanan - crumple zones, airbags, ABS, etc, tidak ada debat. Innova passes dengan flying stars. 5 bintang untuk ASEAN-NCAP (New Car Assessment Program).

Model yang ditest adalah tipe 2 airbags, artinya kalau anda beli Venturer, it's way-way-way much safer.


Tetapi seperti pengujian lab pada umumnya - penelitian terbatas pada variabel - variabel. Tentu saja anda tidak akan memasukkan semua variabel di dunia nyata dalam pengujian.


Jadi, pengujian ini tidak valid ?


Well, mengatakan pengujian dengan variabel terbatas tidak valid adalah sama dengan mengatakan pengujian klinis untuk obat tidak valid. Tentu saja di segala bidang - pengujian memiliki keterbatasan.


Tetapi parameter pengujian pun sebenarnya juga mengambil referensi dari real-world scenario, dirumuskan menjadi suatu teori, lalu dibuat sebuah simulasi. Terdengar simple, padahal aslinya sangat complicated.


Crash Variables


Mengemudikan sebuah mobil. Aktivitas yang sangat sederhana, jutaan orang melakukannya on daily basis. Manusia modern menggerakkan sebuah objek dengan massa 1-ton jauh lebih mudah dibanding Messi menggocek bola di lapangan rumput.


Massa sebesar 1 ton ini bergerak ke seratus kilometer per jam dalam hitungan detik hanya dengan injakan pedal.


Setiap saat, mereka harus memastikan bahwa benda seberat 1 ton ini tidak bergerak liar. Karena itu didukung dengan komponen seperti ban, rem, perseneleng, suspensi, dan untuk konteks saat ini : sensor - sensor elektronik.


Dan semakin berat massa berjalan ini, maka gaya tabrakannya juga akan semakin besar. Tentu saja dihantam oleh bola sepak plastik berbeda dengan bola sepak sungguhan.


Jadi di sini kita memiliki dua variabel utama : massa, dan kecepatan. Keduanya berbanding lurus dengan tingkat pusing kepala anda membayar tagihan bengkel untuk body repair - sukur-sukur punya asuransi total loss.

Kecelakaan total loss yang baru saja terjadi dan menewaskan seorang mantan penyanyi.

( sumber )


Terdengar mengerikan sepertinya - tetapi ini mengerikan jika mobil diasumsikan seperti solid state ball / bola pejal penuh yang tidak memiliki struktur apapun. Ini yang membuat skenario tabrakan mobil tidak se-wagu soal ujian fisika anda di SMP yang bisa berakhir dengan skenario dua mobil bisa mental / lenting sempurna.


Faktanya tidak, jauh lebih kompleks.


Pengemudi masa kini seharusnya berterima kasih dengan teknologi bernama crumple zone. Iya, kalian yang sering bilang mobil sekarang bagian depannya empuk-empuk dan meragukan keamanannya karena bempernya bukan terbuat dari besi plat setebal 10 milimeter military grade.

Crumple Zone, mencegah mobil anda menjadi misil tanpa kendali

( sumber )


Crumple zone adalah bagian yang dikhususkan untuk menyerap benturan. Bahasa kasarnya bagian yang sudah disediakan untuk rusak duluan. Selain berfungsi melindungi occupant, juga berfungsi untuk menyerap energi benturan supaya setelah menabrak mobil diam di tempat, tidak meluncur seperti bola liar.

.... dan bagaimana ia bekerja.

( sumber )


However... tabrakan di dunia nyata memiliki variasi skenario yang sangat beragam. Anda tidak bisa memilih bagaimana cara menabrak objek yang benar. Anda bisa hanya menabrak separuh atau sebagian, nyenggol samping kanan-kiri, ditabrak dari belakang, atau bahkan terguling.


Uji tabrak mencakup keseluruhan skenario ini :

  • Total Frontal Crash (tabrak depan full)

  • Rear Crash (tabrak belakang)

  • Frontal overlap crash (tabrak separuh atau sebagian)

  • Side impact crash (tabrak samping)

  • Rollover test (terguling)

  • Head-on crash (tabrak depan adu kambing full frontal)

  • Head-on overlap crash (tabrak depan separuh)

  • dll.


The Airbags


Sebagian besar orang berpikir bahwa airbag adalah penentu keselamatan occupant paling utama.


Jawabannya : ya, dan tidak.


Airbags membuat kepala anda terlindungi dari benjut akibat membentur kerasnya setir pada tabrakan besar. Indeed, itu adalah fungsi airbag. Dalam pengembangannya ia juga melindungi anda dari benda keras lain seperti pilar - pilar mobil dan dashboard (curtain airbag, knee airbag).


Tetapi sebanyak apapun airbag adalah percuma tanpa struktur rangka yang baik. In fact, bahkan airbag sendiri hanya bersifat supplemental (SRS = Supplementary Restraint System) yang artinya ia bukan faktor kunci. Konstruksi body shell keseluruhan lebih utama.


Airbag sendiri berpotensi melukai jika anda tidak menggunakan sabuk pengaman - jadi kebanyakan airbag di mobil terintegrasi dengan sistem sabuk pengaman.

Stars in a Crash


Hasil pengujian laboratorium memiliki skor tertentu. Umumnya dalam bentuk bintang 1-5. Tetapi sama seperti sekolahan - skor memiliki sederet parameter untuk lolos. Bintang lima di ASEAN-NCAP tidak bisa disamakan dengan bintang lima di EURO-NCAP.


However, ini tidak necessarily mengatakan bahwa skor di ASEAN-NCAP tidak valid dan mobilnya tidak aman. Tetapi ada kaitannya dengan regulasi beberapa negara soal persyaratan keamanan.


Misalnya di ASEAN-NCAP, untuk mendapatkan full score 5 bintang asal crumple zone dan 2 buah airbag bekerja maka sangat memungkinkan mendapatkan full score. Tetapi di Euro-NCAP, mobil sejenis mungkin hanya mendapatkan 3 atau 4 bintang.


Penyebabnya adalah selain jumlah airbags - di Euro NCAP sudah mensyaratkan radar prevention system a.k.a fitur tolak bala seperti rem otomatis atau blind spot warning sebagai safety equipment wajib untuk mendapatkan full score. Bahkan mereka tidak memerlukan lagi pengujian traction control system sejak 2013 karena sudah mandatory di setiap mobil.


Mengapa di ASEAN-NCAP tidak ?


Bahasa politisnya : kebutuhan market dan regulasinya berbeda. Safety equipment canggih juga bukan barang murah, memerlukan banyak sekali komponen jauh dari yang anda pikirkan sekedar tombol atau sonar saja. Memerlukan pemrogaman algoritma AI yang tentu saja di luar


Lagian, situ dengar Innova Venturer 7 airbags harganya 500 juta saja sudah misuh-misuh kok.


How Crash Test Fails - in Real World


Pengujian lab tidak dapat mewakili semua skenario di dunia nyata. Ada jutaan kemungkinan kecelakaan di dunia nyata dari tabrakan hingga ketiban pohon atau kejatuhan pesawat. Lab test hanya memungkinkan menguji hal - hal yang paling sering terjadi saja. Kejadian extraordinary seperti ini tentu saja tidak termasuk.


Lalu pada kejadian Innova menabrak guard rail sampai tembus - apa yang "gagal" di sini ?

Innova menabrak sampai naik ke separator dan menabrak guard rail.

( sumber )


Pertama, yang diributkan adalah mengapa airbag tidak mengembang ?


Harus dipahami bahwa airbags bekerja dengan parameter tertentu. Ia tidak seketika mengembang ketika ada tabrakan. Memangnya anda mau mobil ketiban mangga di kap mesin lalu airbag keluar ?


Sensor pada airbag membaca besaran impak yang masuk lalu diteruskan ke ECU apakah impak tersebut memerlukan aktivasi airbag ? Jika tidak, ya airbag tidak akan mengembang.


Masalahnya adalah bagaimana peletakan sensor airbag ? Jika impak terjadi di luar sensor airbag, tentu saja pembacaannya berbeda - atau malah tidak terbaca sebagai impak sama sekali. Ini sekaligus menjawab tentang banyaknya kecelakaan tapi airbag tidak mengembang.


Lha kalau posisi airbag sensornya di depan sementara ditabrak samping atau belakang, nggak akan terbaca, tho ? Kecuali curtain airbags yang dapat membaca side impact atau rollover.


Dan menilik posisi guard rail yang "menusuk" pada bagian tengah, sepertinya mungkin sekali sensor airbag tidak membacanya sama sekali.


Kedua, pertanyaan mengenai mengapa guard rail bisa "masuk" sampai kabin ?

Guard rail menembus kabin ? Safety nya payah ?

( sumber )


Dummy physics. Semakin kecil area semakin besar tekanannya.


Luas penampang ujung guard rail sangat kecil, membuatnya cenderung lebih tajam secara frontal, ini menghasilkan tekanan yang besar, perbandingannya seperti anda kepentok batu besar dengan tertusuk pisau.


Ditambah adanya faktor kecepatan - yang sudah pasti tidak pelan. Tentu saja, bagaimana dia bisa nyangkut sampai ke atas jika hanya berjalan pelan ?


Kejadian seperti ini tidak hanya Innova, BMW pun bisa saja mengalaminya. Ini adalah extraordinary case yang jelas tidak masuk standar pengujian laboratorium.


Well, mungkin saja ke depannya lembaga uji tabrak menambah skenario seperti ini. Automobile safety tidak berhenti sampai di sini saja, sudah pasti terus menerus dikaji mengenai skenario apa lagi yang dapat terjadi di dunia nyata.


Barangkali nantinya kita memiliki mobil yang bisa aman dari ledakan pesawat jatuh ?



75 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page