top of page
  • Christian Aditya

Save the Combustion : eFuel

Mungkinkah ada masa depan untuk mesin berbahan bakar ?


Propaganda mengenai "the electric future" sudah tak terbendung dan sudah di depan mata. Mobil - mobil berbaterai akan semakin memadati jalanan - walau mungkin tidak di Indonesia.

Hyundai KONA EV dan IONIQ di Indonesia

( sumber )


Lalu petrolheads terbelah menjadi dua kubu.


Ada yang pro dengan mobil berbaterai - "kita tidak bisa menolak perubahan".


Tetapi ada yang kontra - major player di otomotif bahkan. Mungkin kurang tepat disebut kontra : mengkritisi.


Saya tentu saja yang kedua. I'm trying not to be naive.


The electric transition, bagi saya sampai hari ini bukanlah sebuah alternatif solusi yang "hijau" seperti yang dikampanyekan. Bagi saya ini hanya sebuah pola lain untuk menciptakan tren baru dalam perkembangan otomotif.


Well, sah - sah saja. Dulu diesel juga sempat trending, lalu jatuh karena Dieselgate.

Remember "Dieselgate" ?

( sumber )


Lagipula, memaksa orang untuk phasing out mobil berbahan bakar tidak mudah.


Mobil berbahan bakar memiliki sejarah panjang dan heritage. Bahkan ketika Ford menggunakan brand name "Mustang" untuk mobil listriknya, fans Mustang "sungguhan" meradang. Seperti sebuah blasphemy untuk heritage pony car bermesin V8 tersebut.

Mustang Mach-e, bukan coupe tetapi crossover, bukan V8 tetapi elektrik.

( sumber )

"I am not happy with it personally," said Steve McCarley, a past president of the Mustang Club of America, who lives in Stockbridge, Georgia. "Even today, if I close my eyes and picture a car, I picture a '65 Mustang. Telling me you're coming with an electric Mustang, you’re not spinning my wheels."

Anda dan saya - sebagian dari kita menganggap mobil bukan sekedar appliance untuk berpindah tempat dan belanja bulanan. We put our heart and soul into it. Keberadaan suara dan keunikan karakter masing-masing unit powertrain adalah yang membuat sebuah mobil itu hidup - dan tidak bisa digantikan oleh baterai. Baterai bukan substitusi untuk legendary names seperti JZ-engine, RB/VR-engine, B-engine, K-engine, "Coyote" Engine, "Hellcrate" engine, dll.


Jadi, adakah cara dari untuk mempertahankan power-rumbling machine ini di masa depan ? Mungkinkah kita masih bisa memelihara mobil - mobil ini di kalah government memaksa mereka untuk phase out ?

Akhir dari V8 ? Not so fast.

( sumber )


Kabar baiknya : yes, dan mungkin dalam waktu yang masih sangat panjang.


Dukungan beberapa pabrikan otomotif seperti Porsche, McLaren dan Mazda memberi kita sedikit glimpse akan seperti apa mobil berbahan bakar di masa depan.


Bahan Bakar Sintetis (Synthetic Fuel)


eFuel Initiative digagas oleh Porsche, Siemens, Enel, AME, dan ENAP. Kolaborasi ini membuahkan pabrik di Magallenes, Chile Selatan.

Pabrik eFuel di Magallenes

( sumber )

Mereka melakukan kampanye untuk memproduksi bahan bakar bersifat carbon-neutral. Target utamanya tentu saja sektor komersil : trucking, perkapalan, dan penerbangan yang masih bergantung sepenuhnya pada bahan bakar minyak.


More than 1.3 billion vehicles worldwide are currently powered by conventional internal combustion engines. In addition, there are around 22,000 aircraft and 50,000 ships worldwide for which there is no sensible technical alternative as a propulsion option in sight. These existing fleets will also form the basis of mobility in the coming decades. Both this fleet and its traffic performance continues to grow worldwide. In addition, around 20 million heating systems are operated with conventional liquid fuels in the EU alone . In order to meet this reality sustainably, the solution for climate protection is therefore to use climate-neutral fuels .

Beberapa uji coba lapangan pun sudah dilakukan. KLM baru saja melakukan uji-coba penerbangan, menggunakan synthetic fuel yang diproduksi oleh Shell.


Fuel for the KLM flight was produced in a Shell lab using carbon dioxide captured from Europe’s biggest oil refinery in Pernis, near Rotterdam, and from a cattle farm in the northern Netherlands.

KLM melakukan penerbangan pertama dengan bahan bakar sintetis buatan Shell

( sumber )


McLaren bahkan merencanakan untuk membuat prototype mobil dengan bahan bakar sintetik, dinyatakan oleh COO McLaren sendiri : Jens Ludmann.


The British automaker’s COO Jens Ludmann said his company is convinced that synthetic fuel could put a major dent in emissions in a recent interview with Autocar. While the executive doesn’t view the nascent technology as a replacement for electric powertrains, he said the company believes it is a valid alternative, especially considering the environmental impact of producing batteries.
According to the Ludmann, McLaren is so interested in the idea that the company plans to build a prototype that will run on synthetic fuel. In fact, he says that converting a standard internal combustion engine, or at least McLaren’s version of one, wouldn’t even require that much work.

Mazda bahkan baru beberapa hari lalu bergabung dengan eFuel Alliance


Mazda has always been a strong advocate of a multi-solution approach, that combines different technologies, as the best way forward to reduce emissions. Electrification is a key pillar within Mazda’s multi-solution strategy and by 2030 all Mazda vehicles will be electrified. However, many vehicles will continue to have an internal combustion engine.

Jadi, apa sebenarnya Synthetic Fuel ini ?


eFuel Alliance dan Mazda baru saja bergabung

( sumber )


Penjelasan sederhananya : ketika EV berbicara tentang bagaimana kendaraan tidak mengeluarkan gas buang dari tailpipe - well, tepatnya, membuang sejauh - jauhnya gas buang tersebut ke powerplant di suatu tempat terpencil a.k.a membuang sampah di rumah tetangga anda - ide tentang synthetic fuel adalah bagaimana gas buang "berbahaya" dari kendaraan berbahan bakar kita dapat menjadi sesuatu yang lebih berguna. Mainly, tentu saja gas karbon dioksida (CO2).

Diagram sederhana mengenai prinsip pengolahan bahan bakar sintetis / eFuel

( sumber )


Bahan bakar konvensional merupakan hidrokarbon (HC) - gabungan hydrogen (H) dan karbon (C). Campuran ini didapat dari minyak bumi. Tetapi orang - orang jenius ini berpikir bahwa ada alternatif lain untuk memproduksi dan meniru karakteristik dari bahan bakar konvensional.


Karbon (C) didapatkan dari CO2 - Hydrogen didapatkan dari air (H2O). Melalui sebuah proses bernama electrolysis untuk memisahkan atom Hydrogen dan Carbon ini.


Jadi, ide bahan bakar sintetis sendiri adalah renewable - terdengar lebih bersih dibanding mobil bertenaga baterai yang disupply oleh batu bara, setidaknya di telinga saya.


eFuels are produced with the help of electricity from renewable energies, water and CO 2 from the air and, in contrast to conventional fuels and fuels, do not release any additional CO 2 , but are climate-neutral in the overall balance. In addition, thanks to their compatibility with today's internal combustion engines, eFuels can drive vehicles, aircraft and ships, which can then continue to be operated in a climate-friendly manner. The same applies to all heating systems that run on liquid fuels. The existing transport, distribution and refueling infrastructures, especially petrol stations, can continue to be used.

Tentu saja membakar bensin memproduksi CO2 - karena itu mereka menyebutnya "carbon-neutral" bukan "zero-carbon" apalagi "zero-emission".


Kelebihan lain dari bahan bakar sintetis adalah kita tidak memerlukan lagi membuat infrastruktur baru - infrastruktur yang sudah eksis : stasiun pengisian bahan bakar, dapat diadaptasi menggunakan bahan bakar jenis ini.


Tentu saja dengan segala kelebihan bahan bakar minyak lain seperti energy density yang lebih baik dan waktu pengisian yang cepat.


Tentu saja saya tidak akan cherry-picking...


Masih banyak pengembangan dan pertanyaan pula mengenai eFuel / bahan bakar sintetis ini.


Pertama, biaya untuk memproduksinya tidak murah. Seliter eFuel Diesel dapat memiliki harga sebesar 4 pounds atau setara Rp. 77.500,- sebelum pajak . Tentu saja seiring waktu dapat tereduksi, eFuel Alliance sendiri mengklaim bahwa biaya produksinya dapat berkurang menjadi 1 euro per liter pada jangka menengah (Rp. 17.000,-).


Synthesising eFuels is expensive, though. A single litre of diesel eFuel costs £4 before taxes, according to the Royal Society scientific institute. While such fuels have been around for a century or so, producing them on a meaningful scale globally is also a challenge. Costs could be reduced with further development and economies of scale,

Dari https://www.efuel-alliance.eu/efuels :

As studies by well-known research institutes show, eFuels can be produced for around 1 euro per liter in the medium term. This means that fuels and fuels remain affordable for consumers.

Selain itu, kebersihan dan tingkat kenetralan karbon ini juga sangat bergantung pada beberapa asumsi seperti dimana dan bagaimana mereka diproses. Tempat - tempat dengan sumber daya sustainable seperti Afrika Barat dengan angin pada pesisir dan sinar matahari di gurun menjadi lokasi paling ideal untuk memproduksi eFuel dalam skala besar.

but critics highlight that in addition to the significant expense they bring, the cleanliness and carbon neutrality of eFuels relies on several assumptions being made about their production, as well as how and where they are burnt.
It also concludes that bulk production of efuels will most likely be concentrated where sustainable energy is cheap and plentiful, such as west Africa with wind on the coast and solar in the desert. In Europe, Sunfire has an efuels plant in Norway using hydroelectric power to make what it calls ‘Blue Crude’, which it is aiming to produce at under €2 per litre. Sunfire also makes the point that its crude can be used to make not just carbon-neutral fuels but also any of 3000 products currently derived from fossil crude, from chewing gums and credit cards to trainers and smartphones.

There is still hope...


Mobil berbaterai akan semakin banyak, it is inevitable. Market demand akan bertambah untuk itu dan kebijakan pemerintah - pemerintah akan lebih menguntungkan EV berkat jargon - jargon lingkungan yang menyelimutinya.


Tetapi kampanye berlebihan tentang "kematian" mobil berbahan bakar tidak akan terjadi - setidaknya in a foreseeable future. Kita tidak sendirian, enthusiasm is still there.


Beberapa automotive giants tidak begitu saja menyerah dengan mobil berbahan bakar. EV mungkin menjadi bagian dari varian produknya - for the sake of market demand. Tetapi para raksasa ini juga tidak berhenti mencari alternatifnya.


Khususnya, dengan kebangkitan kembali sportcar modern berbahan bakar bensin - menandakan bahwa mobil berbahan bakar masih akan bersama dengan kita sampai puluhan tahun ke depan.


So it’s not necessarily game over for the internal combustion engine. Efuels and synthetic biofuels mean we could still be enjoying the unique character and appeal of the internal combustion engine, guilt-free, for many years.





48 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page