top of page
  • Christian Aditya

Goodbye, Panther.

Sudah bukan lagi rumor : Panther akan dihentikan penjualannya oleh Isuzu Astra Motor Indonesia.


Oh, mungkin anda lupa bahwa Isuzu masih menjual Panther ?


Jadi kabar ini sebenarnya tidak mengagetkan juga.


Konon katanya Isuzu menghentikan Panther karena mesinnya tidak dapat comply ke EURO-IV.

Juga langkah tersebut dilakukan IAMI sebagai bagian dari strategi, karena pihaknya ingin fokus pada segmen kendaraan komersial dan terkait regulasi gas buang Euro IV.

Nasib Panther beberapa tahun belakangan bukan saja tidak laku - tetapi juga banyak yang mempertanyakan kejelasan nasibnya.

Panther model terakhir - yang tidak berubah dari tahun 2000-an awal.

( sumber )


Mulai dari isu akan dikeluarkan versi EURO-2 atau EURO-4, lalu isu akan diganti generasi terbaru yang sudah lama sekali, isu mengenai penghentian produksinya pun sudah lama sekali beredar....


Dan kali ini ia benar-benar dihentikan. Resmi. Tidak ada ganti mesin. Tidak ada penerusnya.


Berita menyedihkan, bagi pecinta dan militan Panther. Karena pecinta Panther memang benar - benar militan dan cinta sekali dengan mobilnya.


Saya tidak terlalu banyak pengalaman dengan Panther - memakai saja tidak pernah. Tetapi sebagai orang yang lahir dan tinggal di Indonesia, kehandalan sebuah Isuzu Panther sudah bukan lagi mitos. Banyak rekan menggunakan Panther menjadi saksi hidup ketangguhan Panther.

The Legendary 4JA-1 : sumber kekuatan utama dari Isuzu Panther adalah pada unit mesin ini.

( sumber )


Mobil ini pernah sangat laris - dulu di zaman mobil keluarga hanya terdiri atas mobil - mobil bernama binatang : Toyota Kijang, Isuzu Panther, lalu menyusul Mitsubishi dengan Kuda, menjadi yang terakhir sekaligus yang duluan "cabut".


Tersisa Toyota Kijang dan Isuzu Panther...


Toyota Kijang, sejak 2004 telah bertransformasi menjadi salah satu kendaraan andalan keluarga Indonesia paling mainstream saat ini : Kijang Innova, yang juga sudah dua generasi dengan teknologi dan kemewahan yang selalu bertambah setiap generasinya.

Isuzu Panther "Kapsul" vs Toyota Kijang Innova generasi awal

( sumber )


Kontras dengan Isuzu Panther.


Panther "kapsul" tidak berubah selama 20 tahun. Hanya beberapa minor seperti ubahan lampu dan aksesoris. Tidak ada tambahan interior mewah apalagi kelengkapan keamanan canggih, tidak ada mesin Commonrail Turbodiesel modern. Transmisi Automatic saja terakhir dihentikan produksinya.



Panther "kapsul" generasi awal, selama 20 tahun hanya ubahan pada lampu depan dan aksesori saja.

( sumber )


Menjual mobil seperti ini tidak apa - apa jika harganya murah. Masalahnya, harga Panther sendiri terakhir sudah menyentuh hampir 350 juta rupiah di tipe tertinggi (Grand Touring). Baiklah, tidak semua orang membeli Panther GT, tetapi tipe terendahnya : Panther LM, saat tulisan ini dibuat adalah 286 juta.


Di satu sisi - pembelaan paling populer untuk Isuzu Panther adalah kualitas. Memang harus diakui, soal kualitas, Isuzu sangat konsisten. Mesin 4JA-1 nya tetap punya reputasi unbreakable bahkan masih digunakan di pick-up model baru seperti Traga. Bodinya "kokoh" karena bahan bakunya masih besi - yang disukai oleh rakyat Indonesia walau segi safety dipertanyakan. Pendekatan serba-konvensional Panther juga membuatnya jadi punya kesan tangguh karena tidak rewel, sehingga cocok jadi mobil kerja.


Tetapi seperti apapun pembelaannya - kita tidak bisa menampik bahwa mobil - mobil serba "konvensional" seperti ini lambat-laun akan semakin mahal. Biaya produksinya semakin mahal yang berdampak pada tentu saja : harga jual.

Sempat beredar foto seperti ini di internet pada Februari tahun lalu.

( sumber )


Lalu sama dengan reputasi ketangguhannya yang tidak berubah, stigma masyarakat umum tentang Panther juga tidak berubah : getarannya keras, berisik, dan suspensinya terlalu mengayun.


Sementara dengan menjamurnya mobil - mobil MPV kecil di rentang harga 200 juta hingga 250 juta dengan kemewahan lebih baik, fitur keamanan modern, suspensi yang nyaman, dan mesin yang lebih efisien, masyarakat luas jadi kehilangan alasan untuk membeli Isuzu Panther.


Well, dengan harga Panther LM saja sudah dapat Xpander Ultimate baru, yang katanya LMPV terbaik saat ini, so ?


The Paradox of Utilitarianism


Citra Panther sebagai kendaraan tangguh dan serba-konvensional juga menimbulkan sebuah paradoks tersendiri.


Alasan seseorang terus membeli Toyota Kijang model terbaru adalah adanya kebaruan yang ditawarkan. Entah itu desain lebih modern, mesin lebih efisien, interior lebih mewah,... tak sedikit yang mengganti Kijangnya dan hampir memiliki semua generasi Kijang karena hampir semuanya menawarkan kebaruan.


Tetapi di Isuzu Panther, pola seperti ini hanya bertahan pada peralihan Panther "kotak" ke Panther "kapsul". Setelah itu, jarang sekali yang mengganti Panthernya setiap lima tahun sekali.


Saking tangguh dan tidak berubahnya Panther - pengguna Panther "addicted" dengan ketangguhan mobilnya sendiri, hingga tidak berpikir untuk menggantikannya dengan yang baru. Harganya semakin mahal dan dilihat - lihat tidak terlalu berubah banyak bahkan nyaris sama - pada akhirnya Panther lama itu yang tetap dipertahankan.

Interior Panther, sampai tahun 2020. Masih tanpa ABS dan Airbags.

( sumber )


Paling jika hanya punya rezeki berlebih - mereka akan membeli produk Isuzu lain seperti MU-X, atau beralih ke Kijang Innova.


"Astra Group" ?


Sudah rahasia umum bahwa Isuzu dan Toyota di Indonesia dipayungi oleh grup yang sama : Astra Group. Banyak yang menduga bahwa keanehan strategi pricing dan produk Isuzu adalah sebuah "konspirasi" bahwa Astra Group ingin membunuh Panther pelan-pelan.


Well, biarkan saya memberi sedikit pelajaran sejarah.


Astra Group telah memiliki saham mayoritas (75%) Pantja Motor / Isuzu dari 1991, waktu awal Panther lahir di Indonesia. Artinya, Panther bukan produk yang secara "tiba-tiba" dibunuh.

Pada tahun 1991 PT. Astra International Tbk mengakuisisi mayoritas saham PT. Pantja Motor dengan 75% saham yang dibeli melalui PT. Aryaloka Sentana dari PT Unitras Pertama. Di tahun itu juga, Isuzu Indonesia memperkenalkan Isuzu Panther bermesin 2300 cc Diesel Direct Injection.

Justru pada tahun 2008, status perusahaan menjadi patungan (joint-venture). Kepemilikan saham Astra International berkurang menjadi 44.94%, dengan 44.94% sisanya dimiliki oleh Isuzu Motors Ltd Jepang dan sisanya 10,12% milik Indonesia Product Exhibition. Namanya berbah dari Pantja Motor ke Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI).

Kantor Isuzu Astra Motor Indonesia

( sumber )

Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) is a joint venture automobile and commercial vehicle manufacturer with headquarters in Jakarta, Indonesia. The company was founded in April 2008 and is the successor of the previous Isuzu manufacturer, Pantja Engine, founded in May 1974. The new company is jointly owned by Isuzu and the holding company Astra International, each holding a 44.94% share in the company, with the remaining stake of 10.12% belonging to the Indonesian Product Exhibition.

Jadi, dugaan Panther yang "dibunuh" oleh Astra ini absurd. Lagipula tidak ada gunanya juga membunuh satu produk untuk melariskan yang lain. Lebih baik dibiarkan berkompetisi supaya dua-duanya laku.


Isuzu without Panther ?


Dengan dihentikannya Panther, Isuzu practically hanya punya satu mobil penumpang di seluruh lini nya : MU-X. Itupun dasarnya adalah D-Max berbodi SUV, yang itupun angka penjualannya tidak besar.

Isuzu MU-X, satu - satunya produk kendaraan penumpang di lini Isuzu.

( sumber )


Tetapi dengan hanya berfokus pada kendaraan penumpang saja kita melewatkan gambaran besarnya.


Kita mesti ingat sebenarnya passenger bukan fokus utama Isuzu, setidaknya beberapa tahun belakangan.


Isuzu mempunyai sangat banyak varian kendaraan komersial : Pick-up kecil hingga Trailer, Mobil travel hingga bus besar. Dan bagaimanapun, segmen komersial memiliki keberlangsungan lebih baik daripada segmen kendaraan penumpang. Kendaraan komersial adalah penunjang aktivitas ekonomi, dan akan selalu dibutuhkan.

Isuzu Giga

( sumber )


Inilah mengapa Mitsubishi Motors di Indonesia juga bisa hidup hanya dari berjualan truck saja di sekitaran awal 2000-an hingga kurang lebih 2009 saat Pajero Sport muncul.


Jadi, yang dilakukan Isuzu terhadap Panther sebenarnya adalah sesuatu yang biasa saja di dunia bisnis. Panther memiliki banyak sekali ciri produk yang sudah tidak relevan : biaya produksinya mahal, penyerapan pasar rendah, terganjal regulasi, dan tidak ada lampu hijau dari prinsipal untuk melanjutkannya.


Lagipula, ya, daripada diserang oleh kaum mending-mending terus dan dibully karena terkesan seperti mobil dari eighties yang mencoba terlalu keras untuk terlihat relevan, lebih baik dihentikan saja, bukan ?












132 views1 comment

Recent Posts

See All
bottom of page