top of page
  • Christian Aditya

Toyota Sienta : The Anomaly

Di Indonesia ada sebuah resep ampuh yang akan membuat mobil laku keras :


A seven-seater Toyota.


Tetapi masyarakat luput menambahkan faktor X lain. Faktor ini adalah sesuatu yang disebut familiarity.


Inilah mengapa "it's a Toyota" tidak selalu menjadi jaminan sebuah produk laris. Tidak lantas mobil tersebut akan dengan mudah dibeli laku keras bak kacang goreng. Jika produk tersebut tidak dikenal masyarakat, tidak akan ada yang membeli.

Toyota Avanza... rahasia kesuksesannya adalah tidak serta-merta Toyota dan Seven Seaters, tetapi juga karena ia sudah dikenal terlebih dahulu.


Toyota di Indonesia menjual mobil - mobil yang tidak familiar di mata masyarakat - sebagian dari mereka adalah mobil seven-seaters : Toyota Estima, NAV-1, Voxy, dan Sienta. Keempatnya adalah mobil seven-seaters, Japanese-MPV style, yet tidak terjual sebanyak Avanza, Innova, atau Alphard.


However, Toyota Sienta adalah sebuah anomali yang menarik.


Jepang dari dulu tidak mengenal Toyota Avanza dan Innova. Jepang dari dulu hanya kenal : jika anda ingin van yang kecil, belilah Toyota Sienta, keluarga anda agak banyak : ada trio Noah/Voxy/Esquire, lalu jika anda ingin yang lebih premium, lebih luas, dan more options, ada Alphard / Vellfire.


Pattern ini di Indonesia memiliki isi yang agak berbeda kecuali pada level premium. Di Indonesia Sienta digantikan oleh Avanza, dan Noah/NAV-1 digantikan oleh Innova.


Tetapi hirarki ini menjadi sedikit complicated, setelah 2013.


Toyota Astra memperkenalkan NAV-1 yang memiliki nama asli "Toyota Noah". Noah sendiri termasuk model CBU Toyota yang sempat terjual melalui keran importir, tetapi hadirnya NAV-1 melalui keran ATPM cukup... membingungkan.

Toyota NAV-1 ATPM, yang sekarang digantikan oleh Toyota Voxy

( sumber )


Seven seaters Toyota, seharusnya mobil ini laku keras yang sayangnya... tidak. Indonesia tetap menyukai Toyota Kijang sebagai C-MPV andalan. Belum lagi style bodi Toyota NAV-1 yang cenderung kotak seperti van - mungkin sebagian orang akan berpikir ini adalah saudara lain dari Daihatsu Gran Max.


Lalu pada 2015, well, Toyota Astra berpikir : "ah, tidak mungkin orang Indonesia tidak suka van". Dan seperti slogannya : moving forward, petinggi Toyota yang adalah nihonjin pun mencoba approach lain : "bagaimana kalau small minivan kita di Jepang, anu, apa itu, Toyota Sienta - kita masukkan, tetapi dengan kearifan lokal ?"


Dan dengan high hopes Toyota Sienta dirakit secara lokal - sebuah mobil yang masih asing di mata orang Indonesia, dengan desain dash yang sedikit berbeda karena sepertinya lebih disesuaikan menyerupai Avanza dan Rush, walaupun mobil ini di Indonesia positioningnya sedikit di atas Avanza dan di bawah Innova.

Toyota Sienta waktu awal diluncurkan di Paragon Mall Semarang, lengkap dengan potensial pembelinya : ibu-ibu.


Usaha marketing Toyota tidak main-main dengan mobil ini. Di awal Sienta muncul, setiap gerbang utama Auto2000 dan Nasmoco dihiasi tulisan "UNLOCK YOUR PLAYGROUND" yang adalah motto dari Toyota Sienta.


Mobil ini terjual - setidaknya tidak ngenes seperti Nissan, dan sampai tahun ini masih dijual, bahkan baru saja ada versi Welcab nya. Artinya Toyota Astra masih cukup percaya diri dengan Sienta.

Sienta versi Welcab

( sumber )


Tetapi untuk ukuran sebuah mobil dengan effort marketing sangat jor-joran dan berstatus CKD - penjualannya kurang memuaskan, tidak seperti Avanza yang salesnya makan siang saja sudah dapat order 20 unit untuk rental siap di DP esok pagi.


Sehingga mobil ini literally di-obral dengan discount "wani piro". Harga Sienta saat itu adalah sekitar 220-an awal hingga 300 juta, dan diskonnya mencapai 50 juta-an yang artinya : mobil ini harganya jadi mepet-mepet dengan Avanza Veloz.


Lalu tentu saja yang terdampak dengan "banting harga" ini adalah : resale value nya. Harga Sienta di pasar bekas sudah dirt cheap. Setara dengan elsegese baru.


Dan saya baru saja mendapatkan unit tipe V tahun 2016 dengan harga tidak lebih mahal dari sebuah Honda Brio baru. Tidak sulit juga menemukan Sienta yang dalam kondisi bagus - karena mobil ini memiliki habitat berbeda dengan Toyota Avanza.


It's a bargain, really.


Trying to be Attractive


Sienta adalah minivan yang mencoba atraktif dengan segala macam cara. Berbeda dengan pendekatan konvensional di Voxy dan Alphard, atau bahkan long-gone rivalnya : Honda Freed sekalipun, Sienta adalah sebuah minivan yang chic dan fun di exteriornya.




Bagian depannya entah mengapa mengingatkan saya pada perut ikan pari yang populer dengan hoax "kutukan anak durhaka". Memiliki "janggut" di kanan-kiri yang terusan sampai ke bumper depan-belakang.


However, kalau anda tipe yang tidak menyukai tampilan heboh - belilah warna hitam. Bahkan ini adalah mobil warna hitam di rumah setelah lama kali tidak punya mobil hitam.


Dan ini adalah mobil dengan ukuran ban paling tidak konsisten dari semua tipenya. Tipe V dan Q sekilas memiliki size velg dan bentuk yang sama - tetapi ukuran bannya berbeda. V diberi ban lebih tipis (50 vs 55 di Q), mungkin karena V dianggap varian yang lebih sporti sehingga ban tipis memberi anda kepercayaan diri untuk mengendarainya seperti mobil sport.



Love and Hate Relationship


Ada banyak bits di interiornya yang menimbulkan love-and-hate relationship.


Satu yang membedakan Japanese-bred minivan adalah betapa mobil - mobil ini sangat dirancang unntuk terlihat interaktif dan modern. Sama kagumnya dengan bagaimana open cafe Interior di Honda Freed terlihat modern, Sienta pun juga tampak modern dengan banyak lekuk-lekuk.



Practicality sangat baik di mobil ini - tentu saja karena ini adalah van. Bagasi besar - tinggi dan lantainya rendah. Mekanisme pelipatan kursi baris ketiga juga sangat pintar karena model dive in - ngumpet di bawah kursi baris kedua. Artinya bisa membawa dua ekor gajah dewasa.


Build quality nya tidak yang paling superior - tetapi clearly terasa lebih upclass daripada Mitsubishi Xpander. Plasticky bits nya tidak terasa fragile atau terkesan seperti ingin memotong lengan anda saking tajamnya.


Features ? Well, Sienta type V memang tidak memiliki sh*tloads seperti tipe Q. Airbag hanya 2 dan sisanya adalah basic. MID nya hanya monokrom biasa bukan full colour. Tetapi plus-side nya setiap fitur di sini mudah sekali digunakan.

Contoh untuk mengubah jam, anda tidak perlu pakai trik terlalu banyak, tombol di dash bagian tengah langsung membantu untuk mengatur jam. Mengubah power sliding door ke mode manual juga tidak memerlukan trik dengan tombol tersembunyi - hanya memencet switch di kanan dasbor.


Tetapi soal ergonomi - mobil ini jauh-jauh di belakang Honda Freed.


Pertama adalah tentu saja - "kearifan lokal" yang dimaksud Toyota adalah : tongkat shifter di bawah dash yang artinya sekitar 100 mil di bawah kursi pengemudi - sama seperti Avanza dan Rush. Sepertinya Toyota Astra berpikir salah satu daya tarik Avanza adalah shifter di bawah kursi sehingga mereka menganggap ini "kearifan lokal".



Tuas transmisi di Sienta Singapore, sama dengan Sienta JDM

( sumber )


Kedua yang sangat mengganggu adalah tidak adanya foot rest - dan posisi shifter di bawah ini memperparah karena sangat makan ruang kaki. Artinya jika anda adalah pria dewasa berukuran rata-rata, untuk mendapat posisi nyaman kaki kiri anda harus nekuk ke bawah.


Ketiga dan ini berkaitan dengan kenyamanan : kursi. Kursi depan terlalu kecil untuk ukuran pria rata-rata, mungkin pas jika anda wanita berukuran rata-rata juga.


Kursi belakangnya ? Salah satu keluhan terbesar dari mobil ini di awal adalah ketiadaan bangku captain seat. Bagi anda ini hal remeh - tapi bagi mobil van pintu geser seperti Sienta, ini adalah masalah serius.


Mengapa ?


Mobil pintu geser umumnya tidak memiliki sandaran tangan pada pintu. Ini dikarenakan desain pintu geser tidak memungkinkan untuk pemasangan sandaran tangan pada pintu. Otomatis, solusi satu - satunya adalah memberi arm rest pada kursi penumpang belakang - yang ergonominya akan lebih baik jika kursi memiliki format captain seat.

Celakanya, selain tidak ada arm rest built-in pada kursi, mobil ini juga tidak memiliki armrest di tengah. Sehingga kalau orang di balik kemudi adalah bekas supir bus AKAP, anda hanya bisa bergelantungan pada oh sh*t bar di atas - dan tentu saja bersandar pada Yang Mahakuasa.


Dan Toyota Astra harus menunggu masukan konsumen untuk mengerti bahwa Sienta butuh armrest.

"Itu armrest permintaan konsumen, banyak yang minta. Dulu pertimbangannya armrest atau captain seat, tapi ternyata armrest, dan itu kami pasang di Sienta baru," ucap Anton Jimmi Suwandy, Direktur Marketing TAM.

All Good Until the Nearest U-Turn


Minivan tidak digunakan untuk kebut-kebutan.


Tetapi anda juga pasti tidak mau sebuah minivan yang kesulitan untuk meraih kecepatan 60 kilometer per jam, dan kalaupun anda tidak masalah, orang di sekitar anda bermasalah.


Sienta dibangun dari platform Yaris. Karena itu under the bonnet terdapat unit 2NR-FE 107 hp / 140 Nm. Mesin ini masih 11 hp / 5 Nm di bawah Honda Freed dan dengan bobot yang kurang lebih sama : sekitar 1.3 ton. However, Sienta diberi transmisi CVT yang mungkin.... membantu ?

2NR Engine Toyota - sama seperti di Yaris.


Meski mesinnya tidak punchy - seperti NZ-series yang digantikan, tetapi 2NR memiliki response yang lebih smooth - kalau tidak mau dibilang pelan. Dan mobil ini cukup stabil, artinya anda akan merasa secure berkendara dengan mobil ini di 40 kilometer per jam. Memberikan anda that "santai"-vibe sebuah van. Tidak terasa selalu ingin menambah kecepatan seperti utilitarian brother nya : Avanza.


Ini tidak berarti mobil ini lemot juga. Untuk mencapai kecepatan 60 kilometer per jam ke atas pun tidak sulit, tambah injakan gas, CVT akan merespon naik ke 3.000 RPM, dan kecepatan perlahan bertambah. Surge tenaga pada mid-RPMnya cukup, anda tidak mendapatkan feeling kosong seperti pada NZ-series dulu. Walaupun berlebihan jika dibilang on-par dengan L15 VTEC Honda - karena top-end powernya masih kalah cukup jauh. Salah satu penyebabnya, menurut beberapa pengguna karena ini salah peletakan airbox sehingga performanya agak terhambat.


Konsumsi bahan bakar mobil ini di MID adalah 8.7 km per liter - mengingat ini sempat menjadi mobil showroom yang mungkin aktivitasnya hanya dipanasi 5 menit setiap pagi, angka ini tentu saja belum valid. Beberapa user mencatatkan penggunaan BBM 1 liter untuk 10 kilometer, cukup hemat kalau ingat Honda Freed dulu memiliki konsumsi BBM hampir mirip dengan mesin 2 Liter. Walaupun 1:10 untuk sebuah van modern tidak bisa dibilang spesial karena lagi-lagi : berat.


Setir mobil ini rasanya cukup "padat" - tidak biasanya mobil di kelas ini memiliki rasa setir sebaik Sienta, apalagi ini kelas minivan. Mungkin faktor penggunaan ban berprofil tipis dan jenis ban yang bukan LRR - tetapi Bridgestone Turanza ER33. Dan padat bukan dalam arti setir Toyota yang selalu feeling disconnected dari jalan, Sienta sedikit menawarkan pengalaman lebih baik. Saya belum pernah membawa Yaris "Joker" yang adalah saudara hatchbacknya - tetapi di Yaris "Lele", Sienta feels superior.


Jadi, di sektor pengendalian, Sienta cukup baik. Redaman suspensinya pun cukup balanced sehingga anda tidak merasakan bodyroll yang berlebihan. Hanya karena ini tipe V dengan ban paling tipis dari semua Sienta yang ada - maka setiap lewat lubang feelingnya justru seperti mobil yang bantingannya keras.


Tetapi ya, mobil ini memang rasanya berat sekali. Feeling yang hampir sama dengan Freed : mesin yang sebenarnya bertenaga, tetapi bodi yang masif - 200 kilogram lebih berat dari hatchback counterpartnya.


Semuanya terasa aman hingga kita bertemu putar balik - dan ini adalah keanehan pada Sienta.


Sienta V dan Q memiliki radius putar sebesar 5.7 meter - dan jika anda ingin tahu seberapa besar turning radius 5.7 meter, itu nyaris menyamai sebuah sedan besar seperti Toyota Camry.


Other than that, it is a comfortable vehicle for long drives and urban commutes. The turning circle is specified at 5.3 metres and wasn’t particularly impressive when navigating the narrow food streets of Penang. Surprisingly, the V-Spec has an even bigger turning circle at 5.7 metres.

However, ada cara untuk mengurangi ini : menurunkan size velg ke 15 inch, sehingga radius putarnya menjadi 5.3 meter. Opsi termudah adalah mengganti ke velg tipe G. Tetapi paling tidak anda dapat alasan untuk modif mobil menjadi racing look dengan velg Enkei RPF-1 berukuran kecil - pengurangan radius putar.


Still, a Minivan. Only Luxurious and Funky.


Toyota Sienta - Indonesian spec memiliki banyak sekali flaw secara desain dan engineering. Beberapa flaw ini tentu saja sangat fundamental. Tidak ada orang membeli sebuah van dengan panjang 4.3 meter lalu mendapatkan radius putar sebesar Toyota Camry, dan menyandarkan tangan murni kepada Yang Mahakuasa - karena tidak ada armrest di baris kedua.


Tetapi beberapa kelemahan ini bisa dimodifikasi. Banyaknya bengkel interior yang mampu memodifikasi armrest pada mobil tentu saja memudahkan jika memang mobil ini digunakan untuk keluarga. Kalau anda ragu dengan bengkel interior, Toyota Astra pun mungkin menjualnya karena Sienta Facelift sudah memiliki armrest.


Sienta adalah sebuah anomali - tetapi ia tetaplah sebuah pilihan masuk akal bagi anda yang menginginkan Van tapi bukan Granmax, MPV tapi bukan Avanza. Ia adalah hybrid keduanya - dengan sentuhan kemewahan dan tampang funky.


Apalagi mengingat harga seken nya terjun bebas - anda akan terlihat lebih keren turun dari Sienta 2nd daripada Agya tho ?

300 views2 comments

Recent Posts

See All
bottom of page